Senin, 18 Juli 2022

Epistimologi Sains Islam II (Dasar Pemikiran, Manusia adalah Akar Struktur Sains, Pengaruh Struktur dan Pemetaan Sains)

Epistimologi Sains Islam II

(Dasar Pemikiran, Manusia adalah Akar Struktur Sains, Pengaruh 

Struktur dan Pemetaan Sains)

 

Memenuhi Tugas 

Islam dan Ilmu Pengetahuan Pendidikan


Dosen Pengampu:

Dr. Syarifan Nurjan, M.A.

 

Disusun Oleh:


1.      Risma Ayu Indah Pambayu                  (20332024)

2.      Afifah Fitri Desyana                            (20332035)

3.      Lubby Anwar Zain                               (20332036)

4.      Zahrandy Bintang Bhaskara.A             (20332037)

5.      Cherish Mauretha Mahar.V                  (20332039)

 

 

Pendidikan Bahasa Inggris

Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

Universitas Muhammadiyah Ponorogo

Mei  2022


 

PENDAHULUAN

Epistemologi mempelajari tentang hakikat dari pengetahuan, justifikasi, dan rasionalitas keyakinan. Epistemologi menjadi banyak diperbincangkan dalam berbagai bidang, epistemologi dipusatkan menjadi empat bidang yakni

1)      Analisis filsafat yang terkait hakikat dari pengetahuan dan bagaimana hal ini memiliki keterkaitan dengan konsepsi seperti kebenaran, keyakinan, dan justifikasi,

2)      Berbagai masalah skeptisisme,

3)      Sumber-sumber, akar struktur, ruang lingkup sains (pengetahuan) dan justifikasi atas keyakinan,

4)      Kriteria bagi pengetahuan dan justifikasi.

 

Kebenaran dari ilmu pengetahuan itu bersiat relave yang artinya bervariasi. Karena manusia dalam penelaahannya berbeda beda. Karena Jika ilmu pengetahuan itu dianggap rasional menurut daya tangkap indra dan akalnya maka ia mempunyai nilai posi, tetapi sebaliknya jika tidak dapat diterima oleh pemikirannya maka ilmu itu dianggap meragukan dan memiliki posisi yang lebih rendah. Pengkajian dan penyusunan terhadap pengetahuan ini di sebut sebagai hierarki sains.

 

Sejalan dengan pusat bidang kajian epistemologi, karya ilmiah ini membahas beberapa bagian dari kajian epistemologi sains yang banyak memunculkan pertanyaan-pertanyaan seperti :

1.      Apa dasar pemikiran dari penyusunan hierarki sains?

2.      Apa peranan manusia didalam struktur sains?

3.      Bagaimana pengaruh struktur hirarki terhadap susunan sains?

4.      Apa saja jenis pemetaan sains berbasis struktur hirarki?

 

Pertanyaan pertanyaan itu bukanlah semata-mata merupakan pertanyaan yang timbul dari masalah filsafat. Pertanyaan pertanyaan tersebut mempunyai hubungan erat dengan realitas konkret; respon terhadap masalah-masalah yang mempunyai implikasi terhadap setiap aspek kegiatan manusia; seperti mobilitas masyarakat adalah hasil langsung dari respon tersebut. Sadar mengkritik program ilmu pengetahuan dengan melontarkan pertanyaan pertanyaan adalah sebuah respon yang sangat baik. dan untuk merespon kembali dan menjawab pertanyaan pertanyaan tersebut tentulah dibutuhkan kajian kajian konkret. Oleh karena itu karya ilmiah ini di sediakan untuk dibaca, ditelaah, difahami dan disimpan sebagai pengetahuan.

 

PEMBAHASAN

A.    Dasar Pemikiran Penyusunan Struktur Hirarki Sains

Epistemologi berasal dari dua kosakata dalam bahasa yunani yaitu episteme yang artinya pengetahuan atau knowledge dan logos yang artinya ilmu,teori atau pemikiran. Epistemologi merupakan cabang filsafat atau salah satu teori dalam filsafat yang membicarakan sumber ilmu pengetahuan dan cara memperoleh ilmu pengetahuan (dengan pertanyaan bagaimana). Ketika manusia lahir, keadaannya suci (fitrah) dan tidak mempunyai pengetahuan sedikitpun. Kemudian Allah memberinya akal, hati, dan indra berupa penglihatan dan pendengaran sebagai alat atau media untuk memperoleh pengetahuan.

Hierarki adalah suatu susunan hal di mana hal-hal tersebut dikemukakan sebagai berada di "atas," "bawah," atau "pada tingkat yang sama" dengan yang lainnya. Secara abstrak, sebuah hierarki adalah sebuah kumpulan yang disusun. Dasar pemikiran penyusunan struktur hierarki ilmu langsung mengarah pada mengapa satu objek ilmu menduduki peringkat lebih tinggi daripada objek ilmu lain? llmu pengetahuan yang menjadi objek tersebut terbagi dalam tiga dasar pemikiran; dasar pemikiran ontologis, metodologi, dan nilai fungsi dan atau etika. 

 

a.       Pemikiran Ontologis

Objek semesta dibagi menjadi objek fisik dan objek metafisik. Dalam kasus ini, dunia metafisik kemudian diumpamakan sebagai "analogi" dari ilmu pengetahuan. Dunia metafisik (baca Ilmu Pengetahuan) "ada" karena keberadaan bentuk refleksi pemikiran manusia terhadap objek semesta. Ilmu adalah dunia yang ada dalam bayangan pemikiran manusia. la berbentuk abstrak dan hanya terdiri dari bentuk-bentuk representasi manusia terhadap eksistensi objek fisik semesta. Berdasarkan pendekatan objek material, manusia ber-sifat fisik dan ilmu pengetahuan bersifat metafisika. Logika dasar menunjukkan bahwa manusia menduduki tempat pertama atau boleh kita katakan sumber kemunculan yang disebut ilmu pengetahuan adalah manusia. Menurut urutan proses, manusia mendahului ilmu pengetahuan. Kesimpulanya, dasar pemikiran ontologis pem-bagian struktur ilmu pengetahuan adalah "urutan proses". Objek fisik dianggap lebih dulu dari objek metafisik dengan alasan "urutan proses" dimana yang satu hanya ada bila yang lain ada. Dan dalam pemikiran ontologi berpendapat bahwa dunia metafisik ada karena refleksi pemikiran manusia terhadap objek fisik.

 

b.      Metodologi

Kriteria susunan hierarki ilmu terbagi dalam dua alasan. Pertama alasan tingkat "kepadatan ilmu" dan kekuatan "bukti ilmiah". Berdasarkan tingkat kepadatan ilmunya, semakin padat suatu ilmu, maka semakin luas dan dalam cakupan objek kenyataan yang dikandungnya. Kedua, berdasarkan kekuatan bukti ilmiah, sebagai contoh pembagian kategoris ilmu teoretik dan praktis. Ilmu teoretik menduduki tempat yang lebih tinggi daripada praktis. Ilmu teoretik lebih mencakup banyak bukti ilmiah fenomena empiris semesta dibandingkan dengan ilmu praktis yang cenderung terbatas pada bukti ilmiah fenomena empiris tertentu.

 

Kriteria penyusunan struktur hierarki berdasarkan kekuatan bukti ilmiah dengan pendekatan kualitatif, terkadang mengabaikan bukti-bukti indrawi. Dalam pandangan ini, terdapat praanggapan bahwa indrawi manusia yang parsial bersifat terbatas. Berbeda dengan pendekatan kuantitatif. Besarnya jum-lah dan satuan fisik material sangat menentukan tingkatan ilmunya. Semakin besar kadar kuantitatif suatu objek dianggap semakin tinggi tingkat pengetahuannya. Kunci utama pendekatan kuantitatif adalah daya tangkap/kemampuan 

indra manusia secara alamiah maupun dengan alat bantu teknologi.

 

c.       Nilai Fungsi dan atau Etika

Dasar metodologi nilai fungsi dan atau etika. Pembagian ilmu teoretik dan ilmu praktis bukan hanya berdasarkan tingkat kepadatan ilmunya, tetapi tingkat nilai fungsinya dalam kehidupan nyata. Ilmu praktis lebih dipandang bernilai guna sejauh fungsinya terhadap satu aspek dalam kehidupan yang nyata, sebaliknya, ilmu teoretis kurang bernilai guna karena tidak dapat langsung digunakan fungsinya dalam satu aspek praktis tertentu.

Berikut merupakan gambaran susunan hierarchy of knowledge:


 

a.)    Tradisi

                    Tradisi merupakan landasan terbawah dalam pengetahuan. Sesuatu hal dianggap benar karena sudah dianggap benar sejak dulu. Tradisi biasanya tidak memiliki landasan ilmiah, bahkan terkadang tidak diketahui alasannya, hanya dilakukan terus menerus karena biasa dilakukan dalam jangka waktu lampau. Meskipun begitu, tingkat kepercayaan kebanyakan orang terhadap tradisi masih sangat tinggi, begitu juga dalam bidang kebugaran. Contohnya, orang sering melakukan latihan angkat beban dengan 3 set 10 repetisi, saat ditanya apa alasannya, jawabannya adalah karena itu sering dilakukan banyak orang.

          Seharusnya di era global seperti sekarang ini, seseorang harus mengolaborasikan tradisi dan pengetahuan yang ada. Jika suatu tradisi sejalan saat dikaitkan dengan pengetahuan, maka itu bisa diterapkan. Namun, jika dirasa bertentangan, lebih baik cari dan pilih referensi lain dan hindari jenis tradisi tersebut. Kita harus menjadi individu yang pandai memilah mana yang harus dilakukan dan mana yang tidak. Bukan hanya bergantung pada apa yang dianggap benar dan diterima banyak orang saja.

 

b.) Otoritas

Hirarki pengetahuan berdasarkan otoritas maksudnya adalah sesuatu dianggap benar karena hal tersebut dikatakan oleh “ahli”. Contoh sederhananya, para murid di kelas akan menganggap benar apa yang dikatakan oleh gurunya karena guru dianggap ahli. Contoh lainnya dalam dunia fitness, beberapa orang disebut ahli karena mereka memiliki popularitas karena melatih selebriti atau atlet, walaupun memiliki sedikit bahkan tidak memiliki pendidikan di bidang yang berhubungan. Banyak orang mudah sekali mengadopsi pendapat para ahli, padahal opini yang mereka kemukakan belum dapat dipastikan kebenarannya. Bisa saja opini mereka tidak memiliki bukti ilmiah dan banyak bias. Oleh sebab itu, Anda boleh belajar dari para ahli namun tetap mencari referensi ilmiahnya agar pengetahuan yang dimiliki bisa diterapkan dengan baik dan memberikan hasil yang optimal saat dipraktikkan.

 

 

 

 

c.)    Trial-and-error

Trial artinya mencoba, dan error artinya salah. Trial-and-error digunakan untuk mendapatkan pengetahuan yang terbaik. Setelah dilakukan percobaan berkali-kali maka akan diketahui di mana letak kesalahannya, dan kesalahan-kesalahan yang ditemukan itu akan diperbaiki sehingga didapatkan pengetahuan yang mendalam. Dalam banyak kasus, trial-and-error akan memicu penelitian lebih lanjut dan lebih mendalam. Namun, trial-and-error memiliki keterbatasan yang signifikan, oleh karena itu sebaiknya diterapkan dengan landasan keilmuan yang jelas.

 

d.)            Penalaran logis

Penalaran logis adalah proses sistematis yang menggabungkan pengalaman pribadi, kecerdasan dan sistem berpikir formal untuk memperoleh pengetahuan. Penalaran logis dapat berupa deduktif (teori digunakan untuk membuat hipotesis) atau induktif (generalisasi yang diambil dari pengamatan tertentu). Kedua induktif dan penalaran deduktif merupakan aspek penting dari penelitian yang berorientasi pada pemecahan masalah. Namun untuk memperoleh pengetahuan terbaik, penalaran logis harus tetap divalidasi oleh pengujian empiris.

 

e.)        Metode ilmiah

Metode ilmiah adalah puncak dari piramida hirarki ilmu pengetahuan. Metode ilmiah meliputi pemeriksaan sistematis, empiris, pengontrolan, dan titik proposisi kritis pada hipotesis. Dalam hal ini, pengetahuan didapatkan dari hasil penelitian empiris yang bebas dari bias oleh para peneliti. Ada banyak faktor yang harus dipertimbangkan untuk merumuskan dan melakukan penelitian dengan metode ilmiah, karena metode ini menuntut untuk mengembangkan opini berdasarkan bukti. Sejauh ini, metode ilmiah adalah landasan terbaik dalam hirarki pengetahuan.

 

B.     Manusia Adalah Akar Struktur Sains

Ilmu menurut pengertiannya ialah seluruh kesatuan ide yang mengacu ke objek (atau alam objek) yang sama dan terkait secara logis. Karena itu koherensi sistematik adalah hakikat ilmu. Perbedaan pengetahuan dengan ilmu terletak pada sifat teratur dan sistematis. Pengetahuan sering kali dianggap sebagai suatu bentuk penggambaran manusia terhadap suatu objek tanpa ada unsur keteraturan dan sistematika tertentu, diandaikan begitu saja tanpa kaidah atau aturanaturan logis pengetahuan. Sementara ilmu lebih pada konsep pengetahuan yang dapat dipertanggungjawabkan hasilnya secara teoretik dan reflektif, dibandingkan pengetahuan pada umumnya. Ditinjau dari wujud kebendaannya, ilmu bersifat abstrak/gaib. Ilmu dalam perwujudan sesungguhnya sebatas bentuk-bentuk bayangan representasi manusia terhadap suatu objek yang diamati, baik objek konkret dalam arti dapat diterima secara empiris atau objek yang bersifat.

 

C.    Pengaruh Struktur Hirarki Terhadap Susunan Sains

Perkara yang baik dan buruk itu tetap dan pasti, hal ini yang mendasari pemikiran Plato seorang filsuf Yunani. Ia ingin membuktikan pendapat tersebut karena ia yakin bahwa semuanya itu tetap dan tidak berubah-ubah. Namun, disisi lain, ia juga ingin menjelaskan perubahan-perubahan yang pasti terjadi di alam sebagaimana yang ia lihat melalui inderanya. Berdasarkan alasan tersebut ia kemudian membagi dunia ke dalam dua rancangan yaitu: Dunia ide, dan Dunia realitas indrawi. Dunia ide adalah kebalikan dari dunia indrawi, artinya tak tampak, tak terdengar dan tak berasa dan hanya dapat dijangkau menggunakan akal bukan indera. Menurutnya, dunia ide merupakan cikal bakal segala sesuatu dan disana terdapat bentuk paling sempurna dari segala benda yang ada di dunia. Sedangkan dunia realitas indrawi maksudnya adalah dunia kita sehari-hari yang dapat kita lihat dan rasakan. 

 

Dunia jasmani terbatas pada kemampuan, sedangkan dunia ide menjangkau wilayah tak terbatas karena objeknya tidak hanya realitas kenyataan, tetapi juga pemikiran. Konsep dasar ini melahirkan pandangan berbeda antara ilmu empirik dengan ilmu murni  (Noeng M, 1998, 6). Empiris ini juga diartikan ialah sebagai ilmu yang bertitik tolak pada pengalaman indrawi. Pengalaman indrawi disini diartikan sebagai penglihatan, pengecapan, penciuman, pendengaran, serta sentuhan seseorang terhadap sesuatu yang pernah ditelitinya. Pemetaan Sains Berbasis Struktur Hirarki.

 

Sifat hierarkis di dunia ilmu pengetahuan penting agar tidak terjadi benturan kepentingan antar instrument ilmu pengetahuan yang menimbulkan kekacauan ilmiah ketika manusia hendak beranjak dari wilayah dunia fisik ke problem dunia metafisik.Struktur hierarki ilmu pengetahuan dibedakan atas tingkat kerumitan, fungsi dan ontologi. Dalam tingkatan terendah berisi kerumitan yang sederhana, nyata dan pasti. Sedang semakin tinggi tingkatannya maka kerumitannya akan semakin luas, konkret dan abstrak. Lalu, , terdapat tiga struktur ilmu diantaranya:

1.      Kosmologi

Studi tentang kosmologi meliputi pandangan yang sangat luas. Sebagai ilmu pengetahuan yang membahas tentang alam semesta, sebagaimana telah diterangkan dalam Al - Qur'an dengan segala petunjuk alam yang telah ditunjukkan. Hal tersebut merupakan bukti kuat bahwa alam semesta tidak mungkin tercipta dengan sendirinya. Kosmologi merupakan cabang dari metafisika, yakni sebagai ilmu yang menyelidiki dan mempelajari alam semesta yang mana telah menjadi perhatian manusia sejak dulu kala. Kosmologi dalam Islam tidak hanya mencakup sebatas tatanan alam semesta saja melainkan juga dengan tatanan dunia lain yang non fisik. Sebagaimana dalam Islam, kaum muslimin ditunjukkan dan diajarkan melalui wahyu - wahyu Allah. Kepercayaan pada kesatuan seluruh fenomena seperti yang ditunjukkan dalam Alquran, bersama dengan klasifikasi sains seperti filosofis, mendorong penelitian kosmologis yang secara keseluruhan, mencerminkan luasnya pendekatan. Pada satu sisi terdapat spekulasi metafisika dan mistis yang melampaui benda-benda yang dapat diungkap melalui pengamatan langsung atau pengujian rasional murni. Di sisi lain terdapat pengamatan astronomi langsung dan analisis tentang fenomena yang diamati. Dengan demikian, seiring berkembangnya ilmu pengetahuan, orang mulai melakukan pengamatan lebih rasional terhadap alam semesta hingga saat ini.

 

2.                  Antropologi - Filosofis

Antropologi adalah ilmu tentang manusia yang mempelajari kompleksitas budaya sepanjang sejarah manusia. Antropologi juga bisa disebut sebagai studi mengenai orang-orang di seluruh dunia, sejarah evolusi manusia, perilaku manusia, cara manusia beradaptasi dengan lingkungan, caranya berkomunikasi dan bersosialisasi.

Antropologi berasal dari bahasa Yunani “Anthropos” yang berarti manusia atau orang dan “Logos” yang berarti wacana, nalar atau berakal. Secara. Ilmu antropologi ini dibangun berdasarkan pengetahuan dari ilmu alam, termasuk asal-usul ciri fisik, perilaku dan variasi di antara berbagai kelompok manusia, cara masa lalu evolusi manusia mempengaruhi budaya sosial dan kelompok.Selain itu, antropologi juga dibangun berdasarkan ilmu-ilmu sosial yang mempelajari tentang hubungan manusia sosial dan budaya, sistem keturunan dan hubungan kekerabatan, spiritualitas dan religi, lembaga, konflik sosial, dan lainnya. Sekarang ini, antropologi menjadi sentral dalam pengembangan beberapa bidang baru, seperti ilmu kognitif, studi globalisasi, dan berbagai penelitian.

 

3.                  Pengetahuan Transenden

Model Transendental merupakan salah satu pendekatan Teologi Kontekstual yang melihat bahwa realitas bukan sebagai yang "ada di luar" dan lepas dari pengenalan manusia melainkan berada pada dinamika kesadaran diri. Bahwa menurut model transendental pewahyuan ilahi tidak terletak "di luar" tetapi terjadi pada pengalaman manusia. Maka dari itu, transendental dipahami sebagai proses penyingkapan diri seseorang (subjek) berdasarkan hasil analisis situasi historis, geografis, dan sosial budaya atau dengan kata lain menekankan keaslian subjek. pengetahuan yang berusaha menjelaskan "hal-hal terakhir, kebaikan Tuhan atau hidup-mati manusia" sebagai refleksi atas objek pengetahuan biasa dan pengetahuan ilmiah empiris. Oleh sebab itu, transenden dibedakan menjadi dua, transenden relatif dan transenden absolut. Transenden relatif merupakan bidang kajian filsafat. Sedangkan transenden absolut adalah refleksi manusia atas sesuatu yang tak terjangkau pengetahuan dan akal ilmiah biasa, sehingga ia tidak bisa direpresentasikan atau dapat dikatakan "tidak ada".

 

 

PENUTUP

 

Kesimpulan

Epistemologi adalah salah satu teori dalam filsafat tentang sumber ilmu pengetahuan dan cara memperolehnya dengan pertanyaan bagaimana (Syarifan dan Benny, 2020:10). Dasar pemikiran penyusunan struktur hierarki sains diantaranya pemikiran ontologi, metodologi, dan nilai fungsi estetika. Adapun dasar pemikiran penyusunan struktur hirarki sains diantaranya: pemikiran ontologis, metodologi, dan nilai fungsi estetika. Sumber dan proses pembentukan sains dalam diri manusia meliputi kemampuan dan tahap dalam panca indra. Sedangkan tujuan dan fungsi proses menurut sains terbagi atas empat tingkatan yaitu, kedewasaan, kesadaran diri, kebijaksanaan, dan ma'rifatullah. Baik ilmu empirik maupun ilmu murni keduanya adalah bagian dari ilmu. Pengistilahan tersebut hanya didasarkan pada pendekatan yang dilakukan, empiri berasal dari pengalaman sedang konsep keilmuan disebut ilmu murni. Terakhir, terdapat tiga struktur ilmu diantaranya: kosmologi, antropologi, filosofis, dan transenden.

 

 


Daftar Pustaka

  1. Abdhul, Y. (2022, June 20). Ruang Lingkup Antropologi: Pengertian Dan PendekatanBuku Deepublish. Retrieved June 24, 2022, from https://penerbitbukudeepublish.com/materi/ruang-lingkup-antropologi/ .
  2. Bevans, S. (1992). In Models of Contextual theology. story, Orbis Books.
  3. Muhadjir, Noeng. (1998). In Filsafat Ilmu: Telaah Sistematis Fungsional Komparatif (p. 6). essay, Rake Sarasin.
  4. Nurjan, S., & Mafrudi, B. (2020, September 1). Epistemologi Sains Islam. Umpo Repository. Retrieved June 24, 2022, from http://eprints.umpo.ac.id/5820/
  5. UMSU, O. I. F. (2020, November 21). KOSMOLOGI DAN SAINS. Retrieved June 24, 2022, from https://oif.umsu.ac.id/2020/08/kosmologi-dan-sains/ .

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Epistimologi Sains Islam II (Dasar Pemikiran, Manusia adalah Akar Struktur Sains, Pengaruh Struktur dan Pemetaan Sains)

Epistimologi Sains Islam II (Dasar Pemikiran, Manusia adalah Akar Struktur Sains, Pengaruh  Struktur dan Pemetaan Sains)   Memenuh...