Epistimologi Sains Islam II
(Dasar Pemikiran,
Manusia adalah Akar Struktur Sains, Pengaruh
Struktur dan Pemetaan
Sains)
Memenuhi Tugas
Islam dan Ilmu
Pengetahuan Pendidikan
Dosen Pengampu:
Dr. Syarifan Nurjan, M.A.
Disusun Oleh:
1. Risma Ayu Indah Pambayu (20332024)
2. Afifah Fitri Desyana (20332035)
3. Lubby Anwar Zain (20332036)
4. Zahrandy Bintang Bhaskara.A (20332037)
5. Cherish Mauretha Mahar.V (20332039)
Pendidikan Bahasa Inggris
Fakultas Keguruan dan
Ilmu Pendidikan
Universitas
Muhammadiyah Ponorogo
Mei 2022
PENDAHULUAN
Epistemologi
mempelajari tentang hakikat dari pengetahuan, justifikasi, dan rasionalitas
keyakinan. Epistemologi menjadi banyak diperbincangkan dalam berbagai bidang,
epistemologi dipusatkan menjadi empat bidang yakni
1)
Analisis filsafat yang terkait
hakikat dari pengetahuan dan bagaimana hal ini memiliki keterkaitan dengan
konsepsi seperti kebenaran, keyakinan, dan justifikasi,
2)
Berbagai masalah skeptisisme,
3)
Sumber-sumber, akar struktur, ruang
lingkup sains (pengetahuan) dan justifikasi atas keyakinan,
4)
Kriteria bagi pengetahuan dan
justifikasi.
Kebenaran dari
ilmu pengetahuan itu bersiat relave yang artinya bervariasi. Karena manusia
dalam penelaahannya berbeda beda. Karena Jika ilmu pengetahuan itu dianggap
rasional menurut daya tangkap indra dan akalnya maka ia mempunyai nilai posi,
tetapi sebaliknya jika tidak dapat diterima oleh pemikirannya maka ilmu itu
dianggap meragukan dan memiliki posisi yang lebih rendah. Pengkajian dan
penyusunan terhadap pengetahuan ini di sebut sebagai hierarki sains.
Sejalan dengan
pusat bidang kajian epistemologi, karya ilmiah ini membahas beberapa bagian
dari kajian epistemologi sains yang banyak memunculkan pertanyaan-pertanyaan
seperti :
1.
Apa dasar pemikiran dari penyusunan
hierarki sains?
2.
Apa peranan manusia didalam struktur
sains?
3.
Bagaimana pengaruh struktur hirarki
terhadap susunan sains?
4.
Apa saja jenis pemetaan sains
berbasis struktur hirarki?
Pertanyaan
pertanyaan itu bukanlah semata-mata merupakan pertanyaan yang timbul dari
masalah filsafat. Pertanyaan pertanyaan tersebut mempunyai hubungan erat dengan
realitas konkret; respon terhadap masalah-masalah yang mempunyai implikasi
terhadap setiap aspek kegiatan manusia; seperti mobilitas masyarakat adalah
hasil langsung dari respon tersebut. Sadar mengkritik program ilmu pengetahuan
dengan melontarkan pertanyaan pertanyaan adalah sebuah respon yang sangat baik.
dan untuk merespon kembali dan menjawab pertanyaan pertanyaan tersebut tentulah
dibutuhkan kajian kajian konkret. Oleh karena itu karya ilmiah ini di sediakan
untuk dibaca, ditelaah, difahami dan disimpan sebagai pengetahuan.
PEMBAHASAN
A. Dasar
Pemikiran Penyusunan Struktur Hirarki Sains
Epistemologi berasal dari dua kosakata dalam bahasa yunani yaitu episteme
yang artinya pengetahuan atau knowledge dan logos yang artinya
ilmu,teori atau pemikiran. Epistemologi merupakan cabang filsafat atau salah
satu teori dalam filsafat yang membicarakan sumber ilmu pengetahuan dan cara
memperoleh ilmu pengetahuan (dengan pertanyaan bagaimana). Ketika manusia
lahir, keadaannya suci (fitrah) dan tidak mempunyai pengetahuan sedikitpun.
Kemudian Allah memberinya akal, hati, dan indra berupa penglihatan dan
pendengaran sebagai alat atau media untuk memperoleh pengetahuan.
Hierarki adalah suatu susunan hal di mana hal-hal
tersebut dikemukakan sebagai berada di "atas," "bawah,"
atau "pada tingkat yang sama" dengan yang lainnya. Secara abstrak,
sebuah hierarki adalah sebuah kumpulan yang disusun. Dasar pemikiran penyusunan
struktur hierarki ilmu langsung mengarah pada mengapa satu objek ilmu menduduki
peringkat lebih tinggi daripada objek ilmu lain? llmu pengetahuan yang menjadi
objek tersebut terbagi dalam tiga dasar pemikiran; dasar pemikiran ontologis,
metodologi, dan nilai fungsi dan atau etika.
a.
Pemikiran Ontologis
Objek semesta dibagi menjadi objek fisik dan objek metafisik. Dalam
kasus ini, dunia metafisik kemudian diumpamakan
sebagai "analogi" dari ilmu pengetahuan. Dunia metafisik (baca
Ilmu Pengetahuan) "ada" karena keberadaan bentuk refleksi pemikiran
manusia terhadap objek semesta. Ilmu adalah dunia yang ada dalam bayangan
pemikiran manusia. la berbentuk abstrak dan hanya terdiri dari bentuk-bentuk
representasi manusia terhadap eksistensi objek fisik semesta. Berdasarkan
pendekatan objek material, manusia ber-sifat fisik dan ilmu pengetahuan bersifat
metafisika. Logika dasar menunjukkan bahwa manusia menduduki tempat pertama
atau boleh kita katakan sumber kemunculan yang disebut ilmu pengetahuan adalah
manusia. Menurut urutan proses, manusia mendahului ilmu
pengetahuan. Kesimpulanya, dasar pemikiran ontologis pem-bagian struktur
ilmu pengetahuan adalah "urutan proses". Objek fisik dianggap lebih
dulu dari objek metafisik dengan alasan "urutan proses" dimana yang
satu hanya ada bila yang lain ada. Dan dalam pemikiran ontologi berpendapat
bahwa dunia metafisik ada karena refleksi pemikiran manusia terhadap objek
fisik.
b.
Metodologi
Kriteria susunan
hierarki ilmu terbagi dalam dua alasan. Pertama alasan tingkat "kepadatan
ilmu" dan kekuatan "bukti ilmiah". Berdasarkan tingkat kepadatan
ilmunya, semakin padat suatu ilmu, maka semakin luas dan dalam cakupan
objek kenyataan yang dikandungnya. Kedua, berdasarkan kekuatan bukti ilmiah,
sebagai contoh pembagian kategoris ilmu teoretik dan praktis. Ilmu teoretik
menduduki tempat yang lebih tinggi daripada praktis. Ilmu teoretik lebih
mencakup banyak bukti ilmiah fenomena empiris semesta dibandingkan dengan ilmu
praktis yang cenderung terbatas pada bukti ilmiah fenomena empiris tertentu.
Kriteria penyusunan
struktur hierarki berdasarkan kekuatan bukti ilmiah dengan pendekatan
kualitatif, terkadang mengabaikan bukti-bukti indrawi. Dalam pandangan ini,
terdapat praanggapan bahwa indrawi manusia yang parsial bersifat terbatas.
Berbeda dengan pendekatan kuantitatif. Besarnya jum-lah dan satuan
fisik material sangat menentukan tingkatan ilmunya. Semakin besar kadar
kuantitatif suatu objek dianggap semakin tinggi tingkat pengetahuannya. Kunci
utama pendekatan kuantitatif adalah daya tangkap/kemampuan
indra manusia secara alamiah maupun
dengan alat bantu teknologi.
c.
Nilai Fungsi dan atau Etika
Dasar metodologi
nilai fungsi dan atau etika. Pembagian ilmu teoretik dan ilmu praktis bukan
hanya berdasarkan tingkat kepadatan ilmunya, tetapi tingkat nilai
fungsinya dalam kehidupan nyata. Ilmu praktis lebih dipandang bernilai guna
sejauh fungsinya terhadap satu aspek dalam kehidupan yang nyata,
sebaliknya, ilmu teoretis kurang bernilai guna karena tidak dapat langsung
digunakan fungsinya dalam satu aspek praktis tertentu.
Berikut merupakan gambaran susunan
hierarchy of knowledge:
a.)
Tradisi
Tradisi
merupakan landasan terbawah dalam pengetahuan. Sesuatu hal dianggap benar
karena sudah dianggap benar sejak dulu. Tradisi biasanya tidak memiliki
landasan ilmiah, bahkan terkadang tidak diketahui alasannya, hanya dilakukan
terus menerus karena biasa dilakukan dalam jangka waktu lampau. Meskipun
begitu, tingkat kepercayaan kebanyakan orang terhadap tradisi masih sangat
tinggi, begitu juga dalam bidang kebugaran. Contohnya,
orang sering melakukan latihan angkat beban dengan 3 set 10 repetisi, saat
ditanya apa alasannya, jawabannya adalah karena itu sering dilakukan banyak
orang.
Seharusnya
di era global seperti sekarang ini, seseorang harus mengolaborasikan tradisi
dan pengetahuan yang ada. Jika suatu tradisi sejalan saat dikaitkan dengan
pengetahuan, maka itu bisa diterapkan. Namun, jika dirasa bertentangan, lebih
baik cari dan pilih referensi lain dan hindari jenis tradisi tersebut. Kita
harus menjadi individu yang pandai memilah mana yang harus dilakukan dan mana
yang tidak. Bukan hanya bergantung pada apa yang dianggap benar dan diterima
banyak orang saja.
b.) Otoritas
Hirarki pengetahuan berdasarkan otoritas maksudnya
adalah sesuatu dianggap benar karena hal tersebut dikatakan oleh “ahli”. Contoh
sederhananya, para murid di kelas akan menganggap benar apa yang dikatakan oleh
gurunya karena guru dianggap ahli. Contoh lainnya dalam dunia fitness, beberapa
orang disebut ahli karena mereka memiliki popularitas karena melatih selebriti
atau atlet, walaupun memiliki sedikit bahkan tidak memiliki pendidikan di
bidang yang berhubungan. Banyak orang mudah sekali mengadopsi pendapat para
ahli, padahal opini yang mereka kemukakan belum dapat dipastikan kebenarannya.
Bisa saja opini mereka tidak memiliki bukti ilmiah dan banyak bias. Oleh sebab
itu, Anda boleh belajar dari para ahli namun tetap mencari referensi ilmiahnya
agar pengetahuan yang dimiliki bisa diterapkan dengan baik dan memberikan hasil
yang optimal saat dipraktikkan.
c.)
Trial-and-error
Trial artinya mencoba, dan error artinya salah.
Trial-and-error digunakan untuk mendapatkan pengetahuan yang terbaik. Setelah
dilakukan percobaan berkali-kali maka akan diketahui di mana letak
kesalahannya, dan kesalahan-kesalahan yang ditemukan itu akan diperbaiki
sehingga didapatkan pengetahuan yang mendalam. Dalam banyak kasus,
trial-and-error akan memicu penelitian lebih lanjut dan lebih mendalam. Namun,
trial-and-error memiliki keterbatasan yang signifikan, oleh karena itu
sebaiknya diterapkan dengan landasan keilmuan yang jelas.
d.)
Penalaran logis
Penalaran logis adalah proses sistematis yang
menggabungkan pengalaman pribadi, kecerdasan dan sistem berpikir formal untuk
memperoleh pengetahuan. Penalaran logis dapat berupa deduktif (teori digunakan
untuk membuat hipotesis) atau induktif (generalisasi yang diambil dari
pengamatan tertentu). Kedua induktif dan penalaran deduktif merupakan aspek
penting dari penelitian yang berorientasi pada pemecahan masalah. Namun untuk
memperoleh pengetahuan terbaik, penalaran logis harus tetap divalidasi oleh pengujian
empiris.
e.)
Metode ilmiah
Metode ilmiah adalah puncak dari piramida hirarki
ilmu pengetahuan. Metode ilmiah meliputi pemeriksaan sistematis, empiris,
pengontrolan, dan titik proposisi kritis pada hipotesis. Dalam hal ini,
pengetahuan didapatkan dari hasil penelitian empiris yang bebas dari bias oleh
para peneliti. Ada banyak faktor yang harus dipertimbangkan untuk merumuskan
dan melakukan penelitian dengan metode ilmiah, karena metode ini menuntut untuk
mengembangkan opini berdasarkan bukti. Sejauh ini, metode ilmiah adalah landasan
terbaik dalam hirarki pengetahuan.
B. Manusia
Adalah Akar Struktur Sains
Ilmu menurut pengertiannya ialah seluruh kesatuan ide yang mengacu ke
objek (atau alam objek) yang sama dan terkait secara logis. Karena itu
koherensi sistematik adalah hakikat ilmu. Perbedaan pengetahuan dengan ilmu
terletak pada sifat teratur dan sistematis. Pengetahuan sering kali dianggap
sebagai suatu bentuk penggambaran manusia terhadap suatu objek tanpa ada unsur
keteraturan dan sistematika tertentu, diandaikan begitu saja tanpa kaidah atau
aturanaturan logis pengetahuan. Sementara ilmu lebih pada konsep pengetahuan
yang dapat dipertanggungjawabkan hasilnya secara teoretik dan reflektif,
dibandingkan pengetahuan pada umumnya. Ditinjau dari wujud kebendaannya, ilmu
bersifat abstrak/gaib. Ilmu dalam perwujudan sesungguhnya sebatas bentuk-bentuk
bayangan representasi manusia terhadap suatu objek yang diamati, baik objek
konkret dalam arti dapat diterima secara empiris atau objek yang bersifat.
C. Pengaruh
Struktur Hirarki Terhadap Susunan Sains
Perkara yang baik dan buruk itu tetap dan pasti, hal ini yang mendasari pemikiran Plato seorang filsuf
Yunani. Ia ingin membuktikan pendapat tersebut karena ia yakin bahwa semuanya
itu tetap dan tidak berubah-ubah. Namun, disisi lain, ia juga ingin menjelaskan
perubahan-perubahan yang pasti terjadi di alam sebagaimana yang ia lihat
melalui inderanya. Berdasarkan alasan tersebut ia kemudian membagi dunia ke
dalam dua rancangan yaitu: Dunia ide, dan Dunia realitas indrawi. Dunia ide
adalah kebalikan dari dunia indrawi, artinya tak tampak, tak terdengar dan tak
berasa dan hanya dapat dijangkau menggunakan akal bukan indera. Menurutnya,
dunia ide merupakan cikal bakal segala sesuatu dan disana terdapat bentuk
paling sempurna dari segala benda yang ada di dunia. Sedangkan dunia realitas
indrawi maksudnya adalah dunia kita sehari-hari yang dapat kita lihat dan
rasakan.
Dunia jasmani terbatas pada kemampuan, sedangkan dunia ide
menjangkau wilayah tak terbatas karena objeknya tidak hanya realitas kenyataan,
tetapi juga pemikiran. Konsep dasar ini melahirkan pandangan berbeda antara
ilmu empirik dengan ilmu murni (Noeng M,
1998, 6). Empiris ini juga diartikan ialah sebagai ilmu yang bertitik tolak
pada pengalaman indrawi. Pengalaman indrawi disini diartikan sebagai
penglihatan, pengecapan, penciuman, pendengaran, serta sentuhan seseorang
terhadap sesuatu yang pernah ditelitinya. Pemetaan Sains Berbasis
Struktur Hirarki.
Sifat hierarkis di dunia ilmu pengetahuan penting agar
tidak terjadi benturan kepentingan antar instrument ilmu pengetahuan yang
menimbulkan kekacauan ilmiah ketika manusia hendak beranjak dari wilayah dunia
fisik ke problem dunia metafisik.Struktur hierarki ilmu pengetahuan dibedakan
atas tingkat kerumitan, fungsi dan ontologi. Dalam tingkatan terendah berisi
kerumitan yang sederhana, nyata dan pasti. Sedang semakin tinggi tingkatannya
maka kerumitannya akan semakin luas, konkret dan abstrak. Lalu, , terdapat tiga struktur ilmu diantaranya:
1.
Kosmologi
Studi tentang kosmologi meliputi pandangan yang sangat
luas. Sebagai ilmu pengetahuan yang membahas tentang alam semesta, sebagaimana
telah diterangkan dalam Al - Qur'an dengan segala petunjuk alam yang telah
ditunjukkan. Hal tersebut merupakan bukti kuat bahwa alam semesta tidak mungkin
tercipta dengan sendirinya. Kosmologi merupakan cabang dari metafisika, yakni
sebagai ilmu yang menyelidiki dan mempelajari alam semesta yang mana telah
menjadi perhatian manusia sejak dulu kala. Kosmologi dalam Islam tidak hanya
mencakup sebatas tatanan alam semesta saja melainkan juga dengan tatanan dunia
lain yang non fisik. Sebagaimana dalam Islam, kaum muslimin ditunjukkan dan
diajarkan melalui wahyu - wahyu Allah. Kepercayaan pada kesatuan seluruh
fenomena seperti yang ditunjukkan dalam Alquran, bersama dengan klasifikasi
sains seperti filosofis, mendorong penelitian kosmologis yang secara
keseluruhan, mencerminkan luasnya pendekatan. Pada satu sisi terdapat spekulasi
metafisika dan mistis yang melampaui benda-benda yang dapat diungkap melalui
pengamatan langsung atau pengujian rasional murni. Di sisi lain terdapat
pengamatan astronomi langsung dan analisis tentang fenomena yang diamati.
Dengan demikian, seiring berkembangnya ilmu pengetahuan, orang mulai melakukan
pengamatan lebih rasional terhadap alam semesta hingga saat ini.
2.
Antropologi -
Filosofis
Antropologi adalah ilmu tentang manusia yang mempelajari
kompleksitas budaya sepanjang sejarah manusia. Antropologi juga bisa disebut
sebagai studi mengenai orang-orang di seluruh dunia, sejarah evolusi manusia,
perilaku manusia, cara manusia beradaptasi dengan lingkungan, caranya
berkomunikasi dan bersosialisasi.
Antropologi berasal dari bahasa Yunani “Anthropos” yang
berarti manusia atau orang dan “Logos” yang berarti wacana, nalar atau berakal.
Secara. Ilmu antropologi ini dibangun berdasarkan pengetahuan dari ilmu alam,
termasuk asal-usul ciri fisik, perilaku dan variasi di antara berbagai kelompok
manusia, cara masa lalu evolusi manusia mempengaruhi budaya sosial dan
kelompok.Selain itu, antropologi juga dibangun berdasarkan ilmu-ilmu sosial
yang mempelajari tentang hubungan manusia sosial dan budaya, sistem keturunan
dan hubungan kekerabatan, spiritualitas dan religi, lembaga, konflik sosial,
dan lainnya. Sekarang ini, antropologi menjadi sentral dalam pengembangan
beberapa bidang baru, seperti ilmu kognitif, studi globalisasi, dan berbagai
penelitian.
3.
Pengetahuan Transenden
Model Transendental merupakan salah satu pendekatan Teologi
Kontekstual yang melihat bahwa realitas bukan sebagai yang "ada di
luar" dan lepas dari pengenalan manusia melainkan berada pada dinamika
kesadaran diri. Bahwa menurut model transendental pewahyuan ilahi tidak
terletak "di luar" tetapi terjadi pada pengalaman manusia. Maka dari
itu, transendental dipahami sebagai proses penyingkapan diri seseorang (subjek)
berdasarkan hasil analisis situasi historis, geografis, dan sosial budaya atau
dengan kata lain menekankan keaslian subjek. pengetahuan yang berusaha
menjelaskan "hal-hal terakhir, kebaikan Tuhan atau hidup-mati
manusia" sebagai refleksi atas objek pengetahuan biasa dan pengetahuan
ilmiah empiris. Oleh sebab itu, transenden dibedakan menjadi dua, transenden
relatif dan transenden absolut. Transenden relatif merupakan bidang kajian
filsafat. Sedangkan transenden absolut adalah refleksi manusia atas sesuatu
yang tak terjangkau pengetahuan dan akal ilmiah biasa, sehingga ia tidak bisa
direpresentasikan atau dapat dikatakan "tidak ada".
PENUTUP
Kesimpulan
Epistemologi adalah
salah satu teori dalam filsafat tentang sumber ilmu pengetahuan dan cara
memperolehnya dengan pertanyaan bagaimana (Syarifan dan Benny, 2020:10). Dasar
pemikiran penyusunan struktur hierarki sains diantaranya pemikiran ontologi,
metodologi, dan nilai fungsi estetika. Adapun dasar pemikiran penyusunan
struktur hirarki sains diantaranya: pemikiran ontologis, metodologi, dan nilai
fungsi estetika. Sumber dan proses pembentukan sains dalam diri manusia
meliputi kemampuan dan tahap dalam panca indra. Sedangkan tujuan dan fungsi
proses menurut sains terbagi atas empat tingkatan yaitu, kedewasaan, kesadaran
diri, kebijaksanaan, dan ma'rifatullah. Baik ilmu empirik maupun ilmu murni
keduanya adalah bagian dari ilmu. Pengistilahan tersebut hanya didasarkan pada
pendekatan yang dilakukan, empiri berasal dari pengalaman sedang konsep keilmuan
disebut ilmu murni. Terakhir, terdapat tiga struktur ilmu diantaranya:
kosmologi, antropologi, filosofis, dan transenden.
Daftar Pustaka
- Abdhul, Y. (2022, June 20). Ruang Lingkup Antropologi: Pengertian Dan Pendekatan. Buku Deepublish. Retrieved June 24, 2022, from https://penerbitbukudeepublish.com/materi/ruang-lingkup-antropologi/ .
- Bevans, S. (1992). In Models of Contextual theology. story, Orbis Books.
- Muhadjir, Noeng. (1998). In Filsafat Ilmu: Telaah Sistematis Fungsional Komparatif (p. 6). essay, Rake Sarasin.
- Nurjan, S., & Mafrudi, B. (2020, September 1). Epistemologi Sains Islam. Umpo Repository. Retrieved June 24, 2022, from http://eprints.umpo.ac.id/5820/
- UMSU, O. I. F. (2020, November 21). KOSMOLOGI DAN SAINS. Retrieved June 24, 2022, from https://oif.umsu.ac.id/2020/08/kosmologi-dan-sains/ .
Tidak ada komentar:
Posting Komentar